pasar tradisonal terbesar di Yogyakarta sejarah pasar beringharjo Yogyakarta

Sejarah Pasar Beringharjo

Jagorentalmotor.com — Sejarah Pasar Beringharjo: Jantung Ekonomi dan Budaya Kota Yogyakarta

Pasar Beringharjo bukan sekadar tempat belanja, melainkan sebuah ikon bersejarah yang menyatu erat dengan denyut kehidupan masyarakat Yogyakarta. Terletak strategis di Jalan Pabringan No. 1, kawasan Gondomanan, pasar ini telah menjadi bagian penting dari kota sejak zaman Kesultanan Yogyakarta.

Asal Usul Nama Sejarah Pasar Beringharjo

Nama “Beringharjo” berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa:

  • “Bering”, diambil dari “Beringan”, nama sebuah hutan yang dulunya menjadi lokasi awal berdirinya pusat kerajaan.
  • “Harjo”, yang berarti kemakmuran atau kesejahteraan.

Pasar Beringharjo mencerminkan harapan agar pasar ini menjadi tempat yang membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi rakyat. Nama ini resmi diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII saat naik tahta pada 24 Maret 1925, sebagai bagian dari kebijakan pelestarian bahasa dan budaya Jawa dalam pemerintahan Kesultanan.

pasar tradisional terbesar di Yogyakarta sejarah pasar beringharjo

Transformasi dan Renovasi Pasar Beringharjo

Pada awal berdirinya, Pasar Beringharjo hanyalah deretan los sederhana—dengan tiang kayu, atap dari daun, dan lantai tanah. Namun seiring berkembangnya zaman, pasar ini terus berbenah:

  1. Tahun 1923–1925
    Dengan dukungan pemerintah Hindia Belanda, Sultan Hamengku Buwono VIII membangun 11 los permanen bersama kontraktor Indische Beton Maatschappij dari Surabaya. Bangunan baru ini menggunakan konstruksi beton bertulang dan desain tropis yang khas. Tak heran jika kemudian pasar ini disebut oleh pemerintah kolonial sebagai “Eender Mooiste Passers op Java”, atau “salah satu pasar terindah di Jawa”.
  2. Tahun 1990–1992
    Renovasi kembali dilakukan, khususnya di bagian belakang pasar, untuk menyesuaikan kebutuhan perdagangan modern. Meski begitu, nilai historis dan budaya pasar tetap dijaga dengan baik.

Cagar Budaya dan Filosofi di Balik Pasar Berigharjo

Pasar Beringharjo memiliki posisi strategis dalam konsep tata kota Yogyakarta yang dikenal dengan istilah “Catur Tunggal”—keraton, alun-alun, masjid, dan pasar. Keberadaannya memperlihatkan keterikatan erat antara rakyat dan kerajaan, menjadi simbol hubungan harmonis antara kawula (masyarakat) dan gusti (penguasa).

Tak heran jika pada tahun 2011, Pasar Beringharjo resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.89/PW.007/MKP/2011.

pasar tradisonal terbesar di Yogyakarta sejarah pasar beringharjo Yogyakarta

Pasar Beringharjo Hari Ini

Di era modern ini, Pasar Beringharjo tetap ramai dikunjungi, baik oleh warga lokal maupun wisatawan. Di sini, pengunjung bisa menemukan beragam produk khas Yogyakarta—mulai dari batik, kerajinan tangan, rempah-rempah, hingga makanan tradisional. Suasana pasar yang kental dengan budaya Jawa membuatnya jadi salah satu destinasi wisata budaya yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Jogja.

Kesimpulan Pasar Beringharjo

Lebih dari sekadar tempat jual beli, Pasar Beringharjo adalah bagian dari sejarah panjang Yogyakarta. Dari masa kerajaan hingga era modern, pasar ini terus hidup dan berkembang, menjadi simbol kuat harmonisasi antara budaya, ekonomi, dan tradisi. Keberadaannya membuktikan bahwa warisan budaya bisa terus lestari di tengah arus zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Click Di Sini
Scan the code
Hai, sahabat Jago Rental Motor! Adakah yang Bisa Kami Bantu untuk Anda?